Jakarta Consulting Firm
 +62 21 7279 0338
info@provalindonusa.com
  • Follow

news

News

Fenomena Tutup Gerai Ritel Berjamaah

Sepanjang tahun 2017 dapat kita perhatikan bahwa terdapat beberapa gerai ritel di pertokoan besar di Indonesia yang memutuskan tutup pintu.

Salah satu yang paling ikonik tentu saja tutupnya jaringan ritel Seven Eleven yang memutuskan menghentikan usahanya setelah bertahun-tahun buka di Indonesia. Selain SevEl yang menutup ratusan gerainya, Matahari Department Store, salah satu Department Store raksasa yang telah berjaya di Indonesia juga menutup beberapa gerainya yaitu di Pasaraya Manggarai dan Pasaraya Manggarai, alasannya, kedua gerai tersebut tidak mendatangkan keuntungan sesuai yang diharapkan. Tak hanya itu, Matahari juga menutup gerainya di Mall Taman Anggrek. Debenhams juga memutuskan menutup gerainya di Kemang Village, Supermall Karawaci, dan Senayan City.

Lesunya bisnis ritel juga dapat dirasakan di Surabaya. Tingkat beberapa mall di kota bisnis terbesar kedua di Indonesia ini terlihat menurun sebut saja Mall Lencmark dan Golden City Mall yang bahkan harus berhenti beroperasi sementara. Jakarta sebenarnya juga mengalami kelesuan yang sama karena diperkirakan tingkat kunjungan mall di ibukota Indonesia ini cukup menurun, terutama yang menyasar ekonomi menengah. Meskipun, untuk mall-mall dengan kelas lebih tinggi masih sanggup menjaga tingkat kunjungannya tetap stabil seperti Gandaria City dan Kota Kasablanka.

Tidak hanya di dalam negeri, kejatuhan beberapa jaringan ritel juga terjadi di tingkat global. Starbucks, jejaring warung kopi paling terkenal seantero dunia dikabarkan mengalami guncangan pendapatan yang tidak mencapai target yang ditetapkan. Menurut kalangan analis Wallstreet, Starbucks dinilai perlu mengatasi dua masalah utama, yaitu terlalu banyaknya jumlah toko serta harga jual produk terlampau tinggi. Selain Starbucks, Toko sepatu Payless dan Crocs juga memutuskan menutup beberapa gerainya. Payless dikabarkan menutup 808 cabangnya, sementara 160 cabang Crocs di AS juga mengalami nasib yang sama.

Kejatuhan industri ritel ini tentu berpengaruh pada banyak aspek, terutama tingkat pengangguran. Bayangkan saja berapa jumlah pekerja di SevEl yang terpaksa harus dirumahkan karena gerai-gerainya yang cukup banyak di Jakarta harus ditutup. Belum lagi pengaruhnya terhadap industri properti secara umum, terutama kepada pemilik dan pengelola gedung-gedung pusat perbelanjaan.

Beberapa alasan mulai dikemukakan banyak golongan terkait jatuhnya industri ritel. Banyak pendapat mengatakan bahwa hal ini diakibatkan kecenderungan tren pembeli yang berubah haluan dari suka berbelanja ke toko, menjadi belanja daring dari online shop. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa hal ini dikarenakan oversupply ritel-ritel yang menjadikan persaingan antar ritel sangat tinggi, bahkan harus bersaing dengan dirinya sendiri seperti yang terjadi pada Starbucks. Melihat kelesuan industri ini, berbagai pihak harus segera menentukan kebijakan agar fenomena ini tidak terus berlanjut dan memberi dampak yang lebih besar. Oleh karena itu, dalam membangun bisnis ritel agar mampu eksis dan bertahan diperlukan analisa pasar yang kuat terutama terkait permintaan pasar serta pasokan produk yang ada di industri yang sama.

(syr)

  Join Our Newsletter