Jakarta Consulting Firm
 +62 21 7279 0338
info@provalindonusa.com
  • Follow

news

News

Kota Maja Solusi Kebutuhan Perumahan Ibukota

Dewasa ini, persoalan perumahan masih menjadi salah satu main issue dalam pembangunan ekonomi, mengingat sektor perumahan menjadi salah satu motor penggerak perekonomian dan memiliki multiplier effect pertumbuhan suatu daerah. Persoalan perumahaan hingga saat ini adalah tingginya kebutuhan hunian pada suatu kota yang tidak sebanding dengan ketersediaan lahan yang ada sehingga timbulah backlog. Pada tahun 2017, backlog perumahan di Indonesia mencapai 13,8 juta unit (Sumber: REI). Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam menangani persoalan perumahan tersebut adalah tersedianya lahan untuk permukiman. Upaya pemerintah dalam mencari ketersediaan lahan untuk dijadikan kawasan permukiman yang strategis menjadi kunci keberhasilan pembangunan perumahan guna mengurangi backlog.

Pada dasarnya, backlog terjadi di kota-kota besar di Indonesia seperti yang terjadi di Kota Jakarta. Fenomena semakin tingginya angka urbanisasi ke wilayah Ibu Kota Jakarta, yaitu perpindahan penduduk dari desa ke wilayah kota, menjadikan wajah Jakarta penuh dengan segudang persoalan, seperti permukiman kumuh, kemacetan dan banjir. Karena kelangkaan lahan dan tingginya harga lahan di Jakarta menyebabkan penyediaan perumahan khususnya untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) menjadi kendala. Maka untuk itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan Rakyat mewacanakan sebuah program pembangunan kota baru yang tidak jauh dari Ibu Kota Jakarta, bertujuan untuk memberikan solusi atas kebutuhan ketersediaan perumahan bagi masyarakat di seputaran Ibu Kota Jakarta.

Rute KRL yang Menghubungkan Kota Maja dengan Jakarta

Salah satu lokasi yang potensial untuk mendukung sebagian kebutuhan perumahan wilayah Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya adalah Maja. Maja berjarak sekitar 70 km dari pusat kota dan dapat ditempuh melalui Jalan Tol ataupun transportasi umum seperti KRL. Maja berada pada koridor barat dari sisi Kota Jakarta, sedangkan secara administrasi Maja terletak pada 3 kabupaten yaitu Kabupaten Lebak, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Tangerang. Sehingga Maja berpotensi sebagai salah satu penyangga Metropolitan Jakarta. Guna meningkatkan dan mendorong pembangunannya, Maja di Lebak masuk dalam Nawacita dan Amanat RPJMN 2015-2019 yakni pembangunan 10 kota baru publik dengan Maja adalah salah satunya di bagian barat.

Dari gambar tersebut, terlihat bahwa letak Maja cukup strategis untuk menunjang terciptanya sebuah kota yang tepat demi menunjang kebutuhan hunian di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Selain dikarenakan masih tersedian banyak lahan kosong atau kawasan siap bangun, juga didukung oleh ketersediaan transportasi umum di Kota Maja seperti Stasiun KRL. Di Kota Maja terdapat dua stasiun KRL yaitu St. Maja dan St. Cikoya, yang dapat menunjang kebutuhan transportasi para penglaju yang bekerja di Jabodetabek. Waktu tempuh dari dan menuju Kota Maja dengan menggunakan KRL kurang lebih 90 menit. Selain menggunakan KRL, Maja juga dapat diakses melalui jalan darat Tol Balaraja dan tol BSD. Keberadaan transportasi umum KRL dapat menjadi salah satu solusi masyarakat yang tinggal di Kota Maja yang sebagian besar merupakan penglaju yang bekerja di Ibukota. Kedepannya keberadaan transportasi umum seperti KRL akan semakin dicari karena mobilitas generasi milenial dengan segala rutinitasnya. Apalagi saat ini lahan di pusat kota makin terbatas dengan harga yang terus meroket sehingga hunian di daerah pinggiran menjadi pilihan utama, tentu dengan akses transpotasi yang mudah.

Selain dikarenakan lokasi dan aksesibilitas yang cukup mudah menuju Ibukota Jakarta, Kota Maja dipilih sebagai kota penyangga metropolitan Jakarta dikarenakan ketersediaan lahan yang masih luas dan memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai kawasan permukiman. Disisi lain, harga tanah di Kota Maja masih rendah, sehingga cocok untuk dikembangkan sebagai kawasan permukiman untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Untuk mewujudkan terciptanya Kota Baru Maja, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terus menggenjot pengerjaan pembangunan di kawasan Maja, Tangerang. Hal ini dalam rangka menjadikan Maja sebagai kawasan kota mandiri Baru yang menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menyediakan rumah murah untuk MBR. Dalam pembangunan tersebut, pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta melalui Real Estate Indonesia (REI). Terdapat empat developer besar yang akan membangun proyeknya di Maja.

Salah satu proyek perumahan yang sudah diresmikan di Maja adalah proyek properti Citra Maja Raya dengan luas area pengembangan sebesar 2.000 hektar. Perumahan ini didedikasikan sebagai kota mandiri yang hanya berjarak 500 meter dari simpul transportasi massal KRL Stasiun Maja. Pada tahun 2017, Ciputra Group, developer Citra Maja Raya, berhasil membangun 10.000 unit rumah di Maja dengan perbandingan 70% untuk MBR non subsidi dan 30% untuk non MBR. Rencananya pada tahun 2018 ini, Ciputra Group akan menyelesaikan 1.000 unit rumah bersubsidi dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) khusus masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan harga rumah tapak sebesar Rp130 juta.

Rumah-rumah tersebut akan dikenakan uang muka (DP) sebesar 1 persen, dengan bunga 5 persen sampai pencicilan lunas. Sistem pembayaran tersebut merupakan program pemerintah tentang KPR subsidi untuk MBR. Adapun tipe yang ditawarkan untuk program ini adalah tipe 22 dan tipe 27. Selain Citra Maja Raya, juga terdapat Permata Mutiara Maja yang dikembangkan oleh PT Bukit Nusa Indah. Perumahan tersebut telah menyiapkan 1.000 unit rumah MBR bersubsidi yang juga menggunakan mekanisme pembiayaan sesuai FLPP. Tipe rumah yang disediakan adalah tipe 22 sampai tipe 36.

Masterplan Citra Maja Raya

 

Penulis : Radinda Nurbonita

  Join Our Newsletter