Jakarta Consulting Firm
 +62 21 7279 0338
info@provalindonusa.com
  • Follow

news

News

Nasib DP KPR Rp0 Akan seperti Kredit Kendaraan Bermotor?

Giri Hartomo, Jurnalis

JAKARTA – Pengusaha properti yang berada dalam naungan Real Estate Indonesia (REI) berpesan kepada Bank Indonesia (BI) untuk berhati-hati dalam menjalankan kebijakan Loan to Value (LTV) bebas uang muka alias Down Payment (DP) Rp0. Jangan sampai hal tersebut terjadi seperti penyaluran kredit pada kendaraan bermotor.

Wakil Ketua Bidang Riset & Luar Negeri DPD REI DKI Jakarta Chandra Rambey mengatakan, kasus tersebut pernah terjadi pada kredit motor atau mobil yang terjadi belakangan ini. Khusus motor bahkan pernah terjadi cukup membayar DP Rp500 ribu saja sudah bisa membawa pulang motornya.

“Ingat enggak kasus penjualan motor dengan DP Rp500 ribu dulu kan kan dapat. Itu saya enggak menyalahkan siapa-siapa, marketing leasing juga pengen target iya enggak,” ujarnya saat ditemui di Hotel Ambhara Blok M, Jakarta, Selasa (4/9/2018).

Menurut Chandra, jika hal tersebut terjadi akan sangat merugikan perbankan dan juga developer pribadi. Dari sisi perbankan tentunya akan semakin banyak kredit macet yang terjadi.

Apalagi menurutnya, jika kredit macet akan jauh lebih sulit bagi perbankan untuk menjualnya kembali. Hal tersebut tentunya berbeda dengan kredit kendaraan bermotor jika ada motor yang tidak lunas maka akan dengan cepat bisa menjual kembali produknya.

“Kalau itu terjadi di kita, untuk properti itu lebih bahaya, kenapa karena menjual properti itu susah. Kalau motor ‘gue tarik gue jual ruginya leasing cuma 10%’. Kalau properti itu susah,” jelasnya

Bukannya tanpa alasan Chandra menyebut demikian, sebab untuk menjual satu rumah saja membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dan di saat yang bersamaan, harga properti juga akan terus mengalami kenaikan setiap tahunya.

“Ya susah jual rumah langsung cepet kan susah. Ya tahun sih iya, tapi kan akhirnya cost of money-nya udah naik itu. Kalau motor, mobil kan cepet itu jangan terjadi itu saya hanya ingatkan saja,” tegasnya.

Bahkan menurutnya, di Malaysia saja kebijakan bebas uang muka ini sangat diwanti-wanti oleh pengembang. Sebab di samping bisa menguntungkan, kebijakan ini juga bisa menjadi senjata makan tuan bagi perbankan.

“Karena di Malaysia juga dianggap menjadi bisa bahaya, backfire gitu. Karena bank akan jor-joran ngasih kredit tapi kenyataannya itu bukan untuk yang produktif investasi begitu. kalau ‘rumah lu ditarik kan itu takut’, kalau rumah kedua tarik tarik aja deh. jadi gelinding ekonominya kan gitu,” jelasnya

(dni)

  Join Our Newsletter