Jakarta Consulting Firm
 +62 21 7279 0338
info@provalindonusa.com
  • Follow

news

News

Rawan Kredit Macet, Pengembang Ingatkan BI soal Kebijakan DP Rp0

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 04 September 2018 17:17 WIB

JAKARTA – Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan Loan to Value (LTV) Kredit Pemilikan Rumah (KPR) perbankan. Salah satunya, memberikan kebebasan bagi bank-bank berkinerja baik untuk menentukan besaran uang muka alias Down Payment (DP) Kredit Pemilkan Rumah (KPR) sebesar 0%.

Wakil Ketua Bidang Riset & Luar Negeri DPD REI DKI Jakarta Chandra Rambey mengatakan, kebijakan Bank Indonesia untuk memberikan relaksasi sebenarnya cukup positif untuk mendongkrak sektor properti. Namun kebijakan tersebut harus dilakukan secara hati-hati oleh BI.

Sebab menurutnya, jika tidak dijalankan secara hati-hati bukan tidak mungkin akan semakin banyak kredit macet yang terjadi. Hal tersebut tentunya akan merugikan dari pihak perbankan.

Apalagi jika kebijakan tanpa DP maka akan memberatkan biaya cicilan. Hal tersebut sudah menjadi hukum ekonomi dan penjualan secara kredit, jika DP semakin kecil maka cicialnnya lah yang akan tinggi.

“Saya bukannya tidak mendukung kebijakan 0%, tapi harus hati-hati apalagi kondisinya lagi begini. Ngeri kalau enggak hati-hati,” ujarnya saat ditemui di Hotel Ambhara Blok M, Jakarta, Selasa (4/9/2018).

Apalagi menurutnya jika yang membeli rumah tersebut adalah untuk kebutuhan investasi. Artinya, konsumen tersebut membeli rumah bukan untuk rumah pertama melainkan untuk rumah kedua ketiga atau bahkan keempat.

Jika masyarakat yang membeli rumah pertama maka akan benar-benar dijaga rumahnya dan dengan sekuat tenaga dipertahankan agar jangan sampai disita. Artinya, masalah pembayaran kredit tidak akan ada masalah.

“Kalau kita beli rumah pertama, behavior kita akan kita jagain,” ucapnya.

Sedangkan jika rumah kedua yang dibeli tanpa menggunakan DP, maka sang pembeli tidak merasa keberatan jika nantinya rumah tersebut ditarik oleh bank. Sebab tentunya sang pembeli akan lebih mengutamakan cashflow-nya dari pada harus memberatkan keuangan sehari-harinya.

“Sekarang gini dulu kita nyicil cuma Rp2,5 juta tapi dengan interate naik kita jadi nyicil Rp3,5 juta kebutuhan hidup makin tinggi nih enggak mampu nih yaudah deh yang ini kita lepas aja deh toh kita enggak pake DP, cicilan aja. Kalau baru tiga tahun 2 kali Rp3,5 juta paling berapa kan Rp50 juta rugi enggak apa-apa deh lepas daripada kita terganggu cashflow kan itu yang bahaya,” jelasnya.

(dni)

 

Sumber : https://economy.okezone.com/read/2018/09/04/470/1945919/rawan-kredit-macet-pengembang-ingatkan-bi-soal-kebijakan-dp-rp0

  Join Our Newsletter